Aku Cinta Kamu Dan Dia...



Aku Cinta Kamu Dan Dia... [ www.BlogApaAja.com ]

Tak pernah terbayang sebelumnya di benakku,bisa mencintai dua orang sekaligus. Aku tahu ini salah, tetapi yang aku taktahu adalah bagaimana bisa memilih dia tanpa menyakiti hatimu.

"Bang, besok kita jadi ke pantai?"tanyaku sambil tetap asyik dengan ponsel di genggamanku. "Nggak jadi ahkamu sibuk sendiri gitu!" candanya sambil mengacak-acak rambutku. Dipaadalah sosok pria yang belum lama ini dekat denganku. Sebenarnya kami sudahsaling kenal cukup lama, tetapi tak ada yang menyadari mulai kapan perasaankagum dan sayang itu muncul. Aku sendiri memanggilnya abang karena ia memangsangat perhatian padaku. Usia kami berbeda 5 tahun, dan ia tahu benar bagaimanacara memanjakan aku.

Namaku Amel, aku punya kekasih. Ya! Aku punyakekasih yang aku sayangi. Tetapi aku tak dapat menolak kedekatanku dengan Dipaini. Diam-diam tiga bulan ini kami jalan, ke sana kemari berdua. Salingmenghujani satu sama lain dengan perhatian. Menjaga dan bercanda, kami sepertisepasang kekasih yang saling mengagumi satu sama lain. Tak pernah kehabisanbahan cerita dan seperti bisa saling menutupi kekurangan masing-masing.

Kekasihku. Hmm... sebenarnya aku mencintainya.Kami toh sudah jalan lebih dari 3 tahun lamanya. Tetapi entah kenapa kamiseperti orang asing yang tak punya chemistry satu sama lain. Bercanda saja kamijarang. Tetapi ajaibnya kami bisa bertahan dalam hubungan untuk sekian lama."Lalu mengapa harus dipertahankan?" pertanyaan tersebut selalumenggangguku setiap saat. Sayangnya hingga kini, aku tak juga tahu jawabannya.

***

"Kamu tahu, setiap ada di dekatmu akuselalu ingin memelukmu. Serasa tak ingin melepaskanmu..." kata Dipa saatkami menikmati matahari tenggelam di pantai sore itu. Aku terdiam. Aku takdapat berkata apa-apa dan menikmati pelukannya. Namun, ada sedikit rasa taknyaman juga di dalam hatiku. Aku teringat pada kekasihku, yang entah hari inisedang ngapain hehe. Tetapi setidaknya memang aku merasa bersalah padanya, dankian hari rasa bersalah itu semakin besar.

"Bang, sampai kapan memangnya kita harusbegini terus?" tanyaku?

"Maksudmu itu apa? Ya sampaiselamanyalah..." kata Dipa.

"Bukan begitu. Tapi... aku butuhkepastian, bang. Kita nggak bisa seperti ini terus. Kita butuh kejelasanhubungan," kataku lagi melepaskan pelukannya dan kemudian menatapdalam-dalam matanya.

"Hmm... aku tahu maksudmu. Tetapi, akusendiri tak tahu harus bagaimana saat ini. Lebih baik kita jalani saja duluya..." Dipa meraih tanganku, memainkan rambutku dengan lembut. Aku tetapmembisu. Tak tahu harus berkata apa padanya.

***

"Nak Amel, tante itu senang lho Rickybisa jalan dengan nak Amel sekian lama. Maksud hati sih kalian lekas meresmikanhubungan saja," kata tante Lia saat mengajakku ngopi sore itu. Aku nyaristersedak. Tak pernah terpikir sebelumnya di benakku tante Lia akan ngobroltentang hal itu. Oya, tante Lia adalah ibu Ricky, kekasihku. Sebenarnya ia jugaadalah teman ibuku, jadi ceritanya dulu memang kami sengaja dikenalkan.

Ricky sendiri hanya senyum-senyum duduk disampingku, tak berkomentar apa-apa. Dan aku tak bisa menebak apa yang ada didalam pikirannya.

"Iya, beneran nih. Tante sudah bicarasama mama dan papamu. Mereka setuju kok kalau kalian segera menikah tahun ini.Kami sudah tak sabar ingin menimang cucu..." ungkap tante Lia sambiltertawa senang hatinya. Aku menanggapinya dengan senyum yang aku tak tahu ituapa. Aku hanya tak tahu harus berkata apa.

***

"Bang, aku mau dinikahin nih,"kataku pada Dipa. Ia terdiam. "Maksudmu dengan dinikahin itu apa?" iabertanya balik. "Ya orangtuaku dan tante Lia setuju kalau aku dan Rickysegera menikah. Mereka malah sudah merencanakan hal itu. tahun ini."

"Lalu, kamu bilang apa?" wajah Dipamulai serius. Ia meninggalkan kesibukannya dan tampak mulai khawatir. "Yaaku nggak bilang apa-apa sih. Tapi..."

"Tapi apa? Kamu bilang nggak maukan?" ia semakin gusar.

"Aku rasa aku nggak bisa menolaknya,bang." aku memalingkan wajah darinya. Aku takut melihat kekecewaan diwajahnya.

"Aku... aku balik dulu Mel. Aku adaperlu." Aku sudah menyangka ini akan terjadi. Dipa kecewa dan terluka. Akuharus bagaimana? Berpikir selama beberapa detik, kemudian aku mengejarnya.

"Bang... tunggu!" kataku."Gimana kalau kita kawin lari?" aku tak pernah menyangka bahwakalimat ini akan keluar dari mulutku. Namun nyatanya keluar juga. Dipa terdiamdan tak berpaling padaku. Kuhentikan langkahku dan menunggu ia berbalik danmemelukku. Ia tak pernah berbalik. Ia meneruskan langkahnya dan memacu motornyadengan kecepatan tinggi.

***

"Kamu cantik lho Nak Amel dengan busanapengantin ini," kata tante Lia padaku. Mama mengangguk setuju. Akupun tersipudi depan mereka.

Hari ini adalah hari pernikahanku denganRicky. Hari yang diharap-harapkan oleh banyak orang untuk melihatku bahagia.Kalau dipikir-pikir, aku sebenarnya beruntung. Bisa menikah dengan orang yangaku cinta, direstui dan didukung oleh keluarga. Tetapi seperti ada yang hilangdi dalam hatiku.

Dipa. Entah ke mana ia pergi setelah hari itu.Aku tak pernah melihat dan mendengar kabarnya lagi. Ia seperti lenyap ditelanbumi. Aku sendiri tak berniat mencarinya, karena kupikir ia akan berbalik danmemelukku.

Aku juga tak pernah terbayang bagaimana bilaternyata hari itu ia mengiyakan ajakanku. Mungkin saat ini aku tak melihattante Lia, tak melihat senyum di wajah mama dan papa.

Haha. Bodohnya aku. Mengapa sampai terucapkalimat itu. Bukannya aku seharusnya tahu bahwa hubungan kami itu nggak mungkinterwujud.

"Amel, semua sudah menunggu dibawah," kata mama memintaku untuk segera turun dan bersiap untuk ijabkabul. "Iya, ma... sebentar lagi," kataku.

Kupandang lagi cermin di kamarku, kemudianberalih mencari udara segar di jendela kamar. "Baiklah, ini mungkin sudahmenjadi jalanku. Aku tak bisa mundur lagi. Maafkan aku, Bang Dipa. Aku tak bisamenunggu sesuatu yang tak pasti darimu. Aku mencintaimu, namun aku jugamencintai dia," kataku dalam hati kemudian beranjak dari kamarku.


Follow On Twitter